Sunday, December 4, 2011

Biola dengan Satu Senar


share on facebook

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh, namu tiba-tiba salah satu senar biolanya putus.


Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.


Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tapi dia tetap main.


Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri & berteriak, “Hebat, Hebat…”


Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk.


Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar.


Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.


Dengan mata berbinar dia berteriak,
“Paganini dengan satu senar”


Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya.


Penonton sangat terkejut & kagum pada kejadian ini.




PESAN MORAL


Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan & semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus & segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.


Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda?


Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi?




Please write a comment after you read this article. Thx..!! 

Tekan "Like" jika kamu menyukai artikel ini.
Tekan "Share" atau "Tweet" jika menurutmu artikel ini bermanfaat untuk teman2 kalian.
READ MORE - Biola dengan Satu Senar

Saturday, December 3, 2011

Kambing yang Mengaum


share on facebook
oleh: Bratayana Ongkowijaya


Ada seekor kambing muda yang baru pertama kali mendengar suatu auman seekor singa, menanyakannya kepada induknya, “Suara apakah gerangan? Mengapa demikin kuat dan berwibawa sehingga dalam jarak sejauh ini masih menggetarkan serta membuat ciut nyaliku?  Sang induk menjawab singkat, Itu adalah auman seekor singa-si raja hutan. 

Sejak saat itu Si kambing muda tidak bisa melepaskan pikirannya dari kejadian tadi, hal itu selalu mengganggu pikirannya; mengapa suaraku tidak seperti auman singa yang begitu gagah? mengapa aku hanya dapat mengembik? Aku harus bisa mengaum seperti singa itu, dengan begitu aku tentu akan gagah berwibawa dihormati layaknya si raja hutan. 

Sejak itu kambing muda memutuskan untuk belajar mengaum bak seekor singa, tiap hari bahkan tiap saat kambing muda tersebut belajar cara mengaum seperti yang diinginkannya. Saking giat berlatih tanpa mengenal waktu dan lelah, tanpa disadari suara kambing muda itu habis/serak/parau. Tidak menyadari mengapa suaranya demikian, sebaliknya semakin mengebu-gebu berlatih, dia berpikir suara paraunya itu sudah mendekati suara auman singa si raja hutan hanya saja lebih lemah, kurang tenaga. Untuk itu kambing muda justru semakin semangat melakukan latihannya hingga pada akhirnya tidak bisa bersuara lagi. Yang lebih membuatnya shock, setelah berangsur-angsur pulih (kembali bisa bersuara lagi), yang keluar ialah tetap saja suara mengembik bukan auman singa seperti yang diharapkan.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita di atas?

Nabi Kongcu bersabda;Pemimpin hendaklah dapat menempatkan diri sebagai pemimpin;Pembantu sebagai pembantu;Orangtua sebagai orang tua;Anak sebagai anak.(Lun Gi/Sabda Suci XII : 11)

Artinya, setiap insan memiliki  kemampuan masing-masing. Tiap kedudukan atau fungsi seseorang juga punya spesifikasi, yang tidak layak dibandingkan dengan yang lain. Jika kita ialah anak terhadap orangtua wajib melakukan segala yang layaknya dilaksanakan seorang anak, yaitu laku baktinya, begitupun dalam sebuah keluarga, tanggung jawab seorang ayah dalam memberi kasih sayang, tidak layak dibandingkan dengan tanggung jawab anak-anaknya.

Seorang kuncu berbuat sesuai dengan kedudukannya;Ia tidak ingin berbuat keluar daripadanya.(Zhong Yong/Tengah Sempurna XIII : 1)

Maka, kalau seorang pembantu benar-benar melaksanakan tanggung jawabnya kepada atasan atau pemimpinya berlandaskan satya, selayaknya pula bagi sang pemimpin untuk juga penuh susila membimbing para pembantunya itu. Dengan demikian para pembantunya akan merasakan tenteram didalam kedudukannya, penuh loyalitas dalam keharmonisan membantu tugas-tugas yang jauh lebih berat dari sang pemimpin.

Seorang kuncu selalu damai tenteram menerima Firman,Sebaliknya seorang rendah budi melakukan perbuatan sesat untuk memuaskan nafasnya.(Zhong Yong/Tengah Sempurna XIII : 4)

Demikianlah, apapun fungsi yang ada pada diri kita, sedapat mungkin kita lakukan dengan penuh ketulusan, menjadi diri kita sendiri, berbuat yang terbaik untuk harmonis dengan lingkungan sekitar, bersama-sama saling mengisi demi tercapainya kebersamaan agung.



Sumber: DISINI

Please write a comment after you read this article. Thx..!! 

Tekan "Like" jika kamu menyukai artikel ini. 
Tekan "Share" atau "Tweet" jika menurutmu artikel ini bermanfaat untuk teman2 kalian.
READ MORE - Kambing yang Mengaum