Monday, January 17, 2011

Jangan Menjadi Manusia Katak


share on facebook
Font Re-Size
Oleh : Makin Pak Kik Bio

DALAM perjalanan Jakarta menuju Hongkong dengan maskapai penerbangan nasional, seperti biasa kursi pesawat sebagian dipenuhi oleh para tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di Hongkong. Mereka menggunakan jaket-jaket seragam perusahaan jasa tenaga kerja masing-masing. Pada saat menghidangkan makanan para pramugari sibuk melayani semua penumpang yang ada. Ada sedikit berbeda dalam pelayanan antara penumpang biasa dengan penumpang yang berseragam perusahaan jasa tenaga kerja itu. Dari raut muka ketika melayani dan nada bicaranya yang lebih tinggi nampak dalam pelayanan itu agak merendahkan. Mungkin para tenaga kerja itu agak kagok dalam pesawat, sudah sewajarnya mungkin karena mereka baru pertama kali naik pesawat udara, atau mungkin juga pertama kali keluar negeri. Akan tetapi layakkah mereka diperlakukan seperti itu?

Pada saat perjalanan dari Surabaya ke Hongkong dengan sebuah maskapai penerbangan asing, sebagian penumpangnya pun terdiri dari para tenaga kerja yang akan bekerja di Hongkong. Dalam pelayanan makan pagi para pramugarinya sibuk melayani semua penumpang, tetapi tak nampak perbedaan dalam pelayanan, baik untuk penumpang umum maupun untuk para tenaga kerja dari Indonesia. 

Dari kedua kejadian diatas dapatlah dilihat betapa nasib anak bangsa penghasil devisa bagi negara ini masih sangat direndahkan oleh anak bangsa sendiri. Tetapi malah diperlakukan cukup adil oleh para pramugari asing. Toh mereka juga pelanggan yang menghasilkan uang untuk perusahaannya. Jadi harus dilayani secara proporsional. Sulit dimengerti mengapa “petugas” yang dari negara, bangsa sendiri berlaku demikian tidak adilnya terhadap anak bangsa sendiri juga? Entah karena pekerjaan mereka, atau karena pendidikan mereka yang dianggap rendah atau mungkin asal mereka yang dari desa-desa. 

Nasib mereka inipun juga tidak lebih baik ketika mereka pulang setelah merantau bertahun-tahun dan kembali ke tanah air dengan membawa devisa dan bermacam barang bawaan untuk keluarganya tentu. Begitu menginjak bandara di negeri sendiri sudah berpuluh sorot mata melotot seakan hendak menerkam, dari jalur pemeriksaan mereka sudah disendirikan diseret kesana-kemari yang ujung-ujungnya adalah penarikan berbagai macam dana untuk berbagai alasan. Atau bahkan juga berbagai penipuan oleh “penjemput” dengan dalih bermacam pula.

Begitu tidak adilnya para “petugas” itu memperlakukan para tenaga kerja yang sebenarnya adalah pahlawan penghasil devisa untuk negara sungguh sulit dipahami. Sudahkah manusia saat ini telah mati hati nuraninya? Sehingga masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, keuntungan sendiri tanpa memikirkan benar tidaknya usaha yang dilakukannya.

Cu-khong bertanya, “Seorang yang pada saat miskin tidak mau menjilat dan pada saat kaya tidak sombong, bagaimanakah dia?” Nabi menjawab, “Itu cukup baik. Tetapi, alangkah baiknya bila pada saat miskin tetap gembira dan pada saat kaya tetap menyukai Kesusilaan.” (Lun Yu I:15)

Banyak kejadian yang semacam dengan contoh diatas dimana orang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara, baik ditingkat bawah sampai atas tanpa mempedulikan etika, moral yang penting untuk kantong sendiri. 

Mungkin sebagian besar dari kita sudah banyak yang gersang hati nuraninya, atau mungkin sudah lama tidak merawat watak sejati sehingga benih-benih kebajikan yang menjadi daya hidup rohani sudah menjadi kusam terseliputi olah daya hidup duniawi yang berupa hawa nafsu. Ataukah dunia ini sudah ingkar dari jalan suci? Sehingga menilai seseorang selalu melihat seberapa besar kekayaannya, bukan seberapa besar kebajikannya, atau seberapa besar harta benda yang dimiliki bukannya seberapa besar kemampuannya dalam menegakkan cinta kasih, kebenaran, keadilan, kewajiban, kesusilaan dan kebijaksanaan.

Mengzi berkata, “Ikan, aku menyukai. Tapak beruang, aku menyukai juga. Tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kulepas ikan dan kuambil tapak beruang. Hidup, aku menyukai. Kebenaran, aku menyukai juga. Tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kelepaskan hidup dan kupegang teguh Kebenaran. (Mengzi VIA : 10)

Sudah saatnya kita semua kembali menilik watak sejati masing-masing apakah sudah diasah kembali, sudah diperbaharui lagi atau sudah dicemerlangkan lagi.Janganlah kita ini menjadi manusia “katak”, kalau keatas selalu menjilat, kesamping dengan sesama selalu sikut-sikutan, dan kebawah yang lebih rendah meninjak-injak, layaknya seekor katak yang sedang berenang.** 




sumber : disini

Please write a comment after you read this article. Thx..!! 

Tekan "Like" jika kamu menyukai artikel ini. 
Tekan "Share" atau "Tweet" jika menurutmu artikel ini bermanfaat untuk teman2 kalian.

0 comments:

Post a Comment