Friday, December 17, 2010

Kasih Ibu Tiada Batasnya


share on facebook
Font Re-Size
Oleh : 海宽 (Haikuan) 


Alkisah di sebuah desa, hidup seorang ibu yang telah lanjut usia. Ibu ini hanya hidup berdua dengan anaknya. Suaminya telah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya, memikirkan anaknya yang mempunyai tabiat sangat buruk, suka sekali mencuri, berjudi, bermabukan, dan melakukan tindakan negatif lainnya.

Suatu hari, Si anak dibawa ke hadapan raja untuk diadili setelah tertangkap saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membuatnya dijatuhi hukuman pancung. Hukuman akan di lakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman ini terdengar sampai ke telinga Sang ibu dan membuatnya menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya agar tidak dihukum mati. Tetapi keputusan raja tidak dapat diubah!! Dengan hati hancur, Sang ibu kembali ke rumah.

Keesokan harinya, rakyat telah berkumpul di sekitar lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan Si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang telah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah berlalu lima menit dari pukul enam, lonceng belum berdentang juga. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sejak tadi dia menarik tali lonceng, tetapi suara dentangnya tidak terdengar. Saat mereka semua tampak bingung, dari tali lonceng mengalirlah darah.

Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemukan tubuh Si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikan dengan kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya.Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi untuk menghindari hukuman pancung bagi anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata.Sementara Si anak menangis menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimpah darah. Penyesalan selalu datang terlambat!

Dari kesimpulan cerita di atas dapat di simpulkan bahwa :

Kasih ibu kepada anaknya sungguh tiada taranya. Betapapun jahatnya Si anak, seorang ibu rela berkorban dan akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Maka selagi ibu kita masih hidup, kita layak  menghormati,mengasihi dan mencintainya.Perlu kita sadari pula suatu hari nanti, kita pun akan menjadi orang tua dari anak-anak kita, yang pasti kita pun ingin dihormati, dicintai dan dilayani sebagai layaknya orang tua.




Please write a comment after you read this article. Thx..!! 

Tekan "Like" jika kamu menyukai artikel ini. 
Tekan "Share" atau "Tweet" jika menurutmu artikel ini bermanfaat untuk teman2 kalian.

3 comments:

Yulis Samoa said...

Cerita Bijak ini benar2 sangat menyentuh sekali..
I LOVE My Mom... ;))

BRI Jakarta Veteran said...

sangat menyentuh sekali sahabat, memang kasih ibu tidak bertepi, salam.

Nelson Jackson Marpaung said...

Hampir Nangis gt

Post a Comment