Wednesday, December 29, 2010

[Must Read] Filosofi 5 Jari


share on facebook
Font Re-Size
Suatu kali, seseorang pernah menjelaskan padaku tentang filosofi lima jari. Kata beliau, tiap-tiap jari pada tangan kita merupakan perlambang sesuatu. Aku tercenung khusyuk mendengarkan, lalu dia bertutur.

Ibu jari, kata beliau, merupakan perlambang penguasa. Ibu jari adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain, dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang tepat. “Cobalah kau genggam palu dengan empat jarimu selain ibu jari” kata beliau padaku, “dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti palu itu terbang entah kemana”. Itu cerita beliau tentang ibu jari, jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.


Telunjuk, kata beliau lagi, adalah perlambang orang kaya, itulah kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk. Aku tersenyum sedikit, kupikir bisa jadi juga begitu, lalu kudengarkan dia meneruskan.


Jari Tengah, ujarnya bijak, adalah perlambang seorang yg beriman (orang yang berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan jari tengah.


Aku tersenyum simpul, sambil curi-curi kupraktekkan mengambil kerikil di dekat kakiku dan itu dia si jari tengah mensejajarkan diri dengan yang lain.


Jari Manis, ujarnya lagi, ini adalah perlambang pemuda, pemuda selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal-hal lain, kau tahu, katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu perlambang keindahan pemuda!!


Tak sabar aku menanti yang terakhir, sambil tersenyum aku mendengarkan dia berkata merdu, Jari Kelingking, tak lain tak bukan adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking jari terlemah diantara semuanya.


Aku mengangguk takzim, tapi lalu tersenyum nakal “bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah?”

Kau benar, kata beliau, itulah kenapa permainan “suit” kita memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut dengan wanita, kata beliau. Benar juga ya, pikirku, sesaat sebelum dia membuyarkan lamunanku dan berkata, kelingking kalah dengan telunjuk seperti wanita dengan harta.



sumber : disini

Please write a comment after you read this article. Thx..!! 

Tekan "Like" jika kamu menyukai artikel ini. 
Tekan "Share" atau "Tweet" jika menurutmu artikel ini bermanfaat untuk teman2 kalian.

6 comments:

sibutiz said...

mantabsi ni...
makasih atas pelajaranya ka...

English tips said...

Desire for you, your family and your readers a wonderful New Year, Carlos of English tips was here.

Your Mobile Need said...

mantabs...

Anonymous said...

like it
XOXO

aquino said...

Apik banget sob,, aQ jadi tambah pengetahuan tentang filosofi ini (^_^),,
tapi tentang filosofi jari tengah jadi agak aneh klo misalnya kita mengacungkannya pada seseorang, lha nanti bukan dikira beriman tapi malah dikira ngehina githu,, hohoho(^_^)

Hasprabu Budi said...

Enak bacanya. Makasih ya. Silakan mampir juga kerumah mayaku di www.hasprabu.blogspot.com

Post a Comment