Thursday, September 16, 2010

Riwayat Nabi Agung Kongzi (Episode 44 - Episode 53)


share on facebook
Font Re-Size
Episode 44. Berusaha Menarik Nabi

Yang Ho yang pandai dan licin itu yakin bahwa usahanya menegakkan kekuasaan itu akan gagal bila tidak mendapatkan pembantu-pembantu yang bijaksana. Karena itu ia berusaha menarik Nabi Khongcu ke pihaknya. Suatu hari, ia berkunjung ke tempat Nabi Khongcu berserta murid-murid untuk menemuinya. Maksud kunjungan ini gagal karena dihalangi oleh Cu Lo dan kawan-kawannya yang tidak menyukai perbuatannya. Nabi pun segan bertemu dengannya.

Yang Ho tidak berputus asa oleh kegagalan itu, ia mencoba dengan cara lain; ia selaku pejabat secara resmi mengirim seekor babi panggang sebagai hadiah. Kiriman itu tidak dapat langsung diterima Nabi dari utusan Yang Ho karena beliau sedang keluar. Ini memang telah diatur Yang Ho. Dengan jalan ini, Yang Ho memaksa Nabi berkunjung ke rumahnya untuk mengucapkan terima kasih. Karena itu Nabi memilih saat Yang Ho tidak ada di rumah untuk mengunjunginya.


Menurut adat jaman itu, bila seseorang tidak dapat secara langsung menerima pemberian seorang pejabat, ia harus menghadap ke rumah pembesar itu untuk mengucapkan terima kasihnya. 
================= 
Episode 45. Berjumpa Yang Ho

Dalam perjalanan pulang dari rumah Yang Ho, Nabi bertemu dengannya di tengah jalan. 

Yang Ho segera menghampiri; mereka masing-masing turun dari kereta dan saling memberi hormat. Yang Ho berkata, “Saya hendak berbicara sebentar dengan Anda; kalau seseorang menyimpan mestikanya yang berharga dan membiarkan negerinya berantakan, dapatkah ia dinamai seorang yang berperi Cinta Kasih?” 

“Sudah barang tentu tidak.” 

“Kalau ada seseorang yang mau memangku jabatan, tetapi selalu salah mencari waktu yang tepat, dapatkah ia dinamai seorang yang bijaksana?” 

“Sudah barang tentu tidak pula.” 

“Ingatlah, hari dan bulan terus berlalu, umur pun tidak mau menanti!” 

Nabi bersabda, “Benar, Aku pun akan memangku jabatan! Terima kasih.” (Sabda Suci XVII: 1). 

Tahulah Yang Ho bahwa Nabi telah menolak ajakannya secara halus, maka ia tidak berusaha lebih jauh untuk menarik beliau mau bekerja dengannya. 

================= 
Episode 46. Mengendalikan Diri Pulang Kepada Yang Susila 

Nabi tekun menggunakan waktunya untuk membimbing para murid. Suatu hari Gan Yan, murid dari angkatan muda, putera Gan Lo bertanya kepada Nabi tentang makna ajaran Cinta Kasih. 

Nabi menjawab, “Mengendalikan diri dan pulang kepada Lee, Kesusilaan, itulah Cinta Kasih. Bila suatu hari dapat mengendalikan diri pulang kepada Kesusilaan, dunia akan kembali kepada Cinta Kasih. Cinta Kasih itu bergantung pada usaha diri. Dapatkah bergantung orang lain?” 

Gan Yan bertanya, “Mohon penjelasan tentang pelaksanaannya.” Nabi bersabda, “Yang tidak susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan dibicarakan dan yang tidak susila jangan dilakukan.” 

Mendengar jawaban itu, dengan kerendahan hati, Gan Hwee (Yan) berkata, “Sekalipun Hwee tidak pandai akan berusaha melaksanakan kata-kata itu.” (Sabda Suci XII: 1). 

Tentang sabda di atas, baik kita bandingkan dengan sabda Bingcu, “Jangan lakukan apa yang tidak patut dilakukan dan jangan inginkan apa yang tidak patut diinginkan. Ini sudah cukup.” (Bingcu VIIA: 17). 

================= 
Episode 47. Kitab San jak dan Kitab Kesusilaan 

Suatu hari Tien Khong, salah satu murid, bertanya kepada Pik Gi, putera Nabi, “Pernahkah anda mendapatkan pelajaran yang istimewa?” 

Pik Gi atau Li menjawab, “Tidak. Hanya suatu ketika tatkala Beliau sedang berdiri di ruangan, pernah Li hendak melaluinya cepat-cepat; tanyaNya, ‘Sudahkah engkau mempelajari Kitab Sanjak?’; kujawab, ‘Belum’. Lalu sabdaNya, ‘Kalau engkau tidak mempelajari Kitab Sanjak, engkau tidak akan tahu bagaimana bercakap-cakap sebaik-baiknya.’ Li lalu kembali dan sejak itu mempelajari Kitab Sanjak. Hari lain, Beliau juga berdiri di ruangan dan Li hendak melaluinya cepat-cepat; tanyaNya, ‘Sudahkah engkau mempelajari Kitab Kesusilaan?; kujawab ‘Belum’. Lalu sabdaNya, ‘Kalau engkau tidak mempelajari Kitab Kesusilaan, tidak akan teguh pribadimu’. Maka Li kembali masuk dan sejak itu mempelajari Kitab Kesusilaan dengan sungguh-sungguh.” (Sabda Suci XVI: 13). 

Dalam kesempatan lain, Nabi juga bersabda kepada Li, “Sudahkah engkau mempelajari Sanjak Ciu Lam dan Tiau Lam? Seorang yang tidak mempelajarinya, ia akan seperti orang yang hanya berdiri menghadapi dinding rumah.” “Dengan mempelajari Kitab Sanjak, kamu akan dapat mengembangkan fikiran, dapat mawas diri, beroleh pedoman pergaulan dan mengatasi kesedihan.” (Sabda Suci XVII: 10, 9). 

================= 
Episode 48. Nabi Bercakap-cakap Dengan Empat Murid 

Suatu hari Nabi duduk bersama Cu Lo, Cing Sik (ayah Cingcu), Jiam Yu dan Kongsee-Hwa. Kepada mereka Nabi bertanya, “Meskipun Aku lebih tua satu dua hari daripadamu, janganlah itu kau jadikan halangan. 
Bukankah pada waktu senggang kamu sering bicara ‘Tiada orang yang mau mengenal diriku.’ Sekarang kalau ada orang yang mau mengenal dirimu, apakah yang akan dapat kamu lakukan?” 

Cu Lo berkata bahwa ia sanggup menyelamatkan dan membangun kembali sebuah negeri yang sekalipun negeri itu terjepit di antara dua negara besar. Mendengar itu Nabi hanya tersenyum. 

Jiam Kiu berkata bahwa ia sanggu p membangun dan mengatur sebuah negeri kecil saja dan dalam tiga tahun akan dapat dicapai kesejahteraannya. 

Kongsee Hwa berkata bahwa ia masih ingin belajar dan hanya sanggup sebagai pembantu dalam mengatur upacara di bio atau istana. 

Cing Sik setelah mendapat giliran lalu mengakhiri permainan celempungnya dengan sebuah petikan keras dan mohon maaf karena keinginannya berbeda. Ia berkata, “Saat ini sudah dekat musim semi, semua pakaian musim semi telah siap. Tiam ingin bersama lima, enam kawan yang dewasa dan enam, tujuh anak-anak bermandi-mandi di tepi Sungai Ki, mencari hawa sejuk di sekitar tempat untuk upacara memohon hujan; kemudian sambil bernyanyi-nyanyi pulang ke rumah.”

Nabi bersabda, “Aku setuju denganmu, Tiam!” Dalam percakapan ini, kita lihat betapa penat Nabi memperhatikan kemelut jaman itu. 

================= 
Episode 49. Percakapan di Gunung Longsan 

Suatu hari, dengan diikuti Cu Lo, Cu Khong dan Gan Yan, Nabi bertamasya ke Gunung Longsan. Setelah melepaskan pandangan ke empat penjuru, Nabi bersabda, “Oh, di sini segala angan-angan dapat menerawang jauh. Murid-muridKu, ungkapkan angan-anganmu; Aku akan memilihnya.” 

Cu Lo segera maju dan berkata, “Murid ingin mendapatkan bendera putih bagai bulan, bendera merah bagai matahari; dengan diiringi lonceng dan tambur menghadang serbuan barisan lawan; murid akan sanggup merebut 1.000 li dan mengibarkan bendera di sana. Maka suruhlah dua kawan ini mengikuti saya.” Nabi bersabda, “Sungguh 
gagah berani engkau!” 

Cu Khong berkata, “Murid bila ditugaskan mengenakan topi putih panjang melerai bala tentara Negeri Cee dan Cho yang telah siap tempur di lapangan; murid akan mampu dengan kata-kata menghindarkan pertumpahan darah itu.” Nabi bersabda, “Sungguh fasih bicara engkau, Su!” 

Gan Hwee mundur dan tidak mau berkata. Nabi bersabda, “Kemari Hwee, ungkapkan angan-anganmu.” “Kemampuan militer maupun sipil telah diungkapkan. Apa yang harus Hwee ungkapkan lagi.” “Apa sajalah!” “Hwee ingin dapat mengabdi kepada raja yang bijaksana dan bersifat nabi, membantunya mengembangkan lima kewajiban hubungan bermasyarakat, membimbing rakyat dengan Kesusilaan dan musik, dapat diciptakan kerukunan, perdamaian abadi dan kehidupan sejahtera bebas dari peperangan.” Nabi bersabda, “Sungguh Indah, 
penuh Kebajikan.” 

Cu Lo bertanya, “Siapa yang Guru pilih?” Nabi bersabda, “Yang tidak merusak lingkungan, yang tidak membahayakan nyawa rakyat, dan tidak melantur.” (Ke Gi). 

================= 
Episode 50. Semangat Mencintai Tanah Air 

Tatkala Nabi melihat perlombaan memanah di kampung beliau menarik nafas dan bersabda, “Perlombaan memanah sungguh menepati esusilaan dan Musik. Di situ dilakukan acara memanah, diiringi suara musik yang merdu, dipenuhi semangat membina diri; yang memanahnya dapat menepati bulan-bulannya baharulah dinamai cakap. Hal memanah itu seperti sikap seorang susilawan. Bila memanahnya meleset dari bulan-bulannya, si pemanah berbalik mencari sebab-sebab kegagalannya di dalam diri sendiri.” 

Setelah seluruh panitia dan peserta berkumpul, Cu Lo yang diangkat sebagai penyelenggara perlombaan segera masuk ke arena, sambil membawa busur dan anak panah berseru kepada para peserta, “Para panglima yang pernah lari meninggalkan medan, pembesar yang telah kehilangan negaranya beserta pengikutnya tidak boleh masuk.” Maka sebagian dari peserta mengundurkan diri. “Para muda yang berbakti dan rendah hati, orang tua yang mencintai Kesusilaan, tidak mengumbar nafsu dan terus berusaha membina diri sampai akhir hayat, boleh tinggal di tempat.” Maka sebagian mengundurkan diri lagi. “Yang cinta belajar tanpa mengenal lelah, mencintai Kesusilaan tanpa luntur, sampai tua berteguh menempuh Jalan Suci dan tidak mengacau, boleh tinggal di tempat.” Maka sekali lagi sebagian mengundurkan diri. Demikianlah siap perlombaan dimulai. 

Cu Lo melapor kepada Nabi dan mohon pendapatNya. Nabi bersabda, “Sudah menetapi ketentuan.” 

================= 
Episode 51. Menekuni Kitab Ya King 

Di samping membimbing murid-muridNya, Nabi banyak menggunakan waktunya untuk menekuni Kitab Ya King, Kitab Suci tentang Kejadian Semesta A lam Dengan Segala Peristiwa dan Perubahannya. Ini adalah Kitab Wahyu yang diturunkan THIAN, Tuhan Yang Maha Esa kepada Raja Suci Hok Hi (Abad XXX S.M.) berupa tanda-tanda trigram Pat Kwa; pada jaman permulaan Dinasti Ciu (abad XII S.M.), Nabi Ki Chiang atau Raja suci Bun telah menerima wahyu menjabarkan trigram Pat Kwa itu menjadi 64 hexagram dan memberikan teks pokok; teks yang lebih terurai ditulis oleh Nabi Ki Tan atau Pangeran Ciu Kong, putera keempat Nabi Ki Chiang. 

Nabi Khongcu begitu tekun mempelajarinya sehingga kitab itu tiga kali diganti talinya. Tentang Kitab Ya King ini Nabi bersabda, “Kalau dipanjangkan usiaKu sehingga mencapai umur 50 tahun untuk meyakinkan Ya King, niscaya aku dapat membebeaskan diri dari kesalah-kesalahan besar.” (Sabda Suci VII: 17). 

Kiranya Tuhan YME telah mengabulkan harapan itu; pada hari tuanya beliau pernah bersabda, “Di dalam usia 50 tahun, telah Kumengerti Firman Tuhan YME, di dalam usia 60 tahun, pendengaranKu telah menjadi alat yang patuh untuk menerima Kebenaran, dan di dalam usia 70 tahun, Aku sudah dapat mengikuti hatiKu dengan tidak melanggar Garis Kebenaran.” (Sabda Suci II: 4). 

Atas Kitab Ya King ini, Nabi telah menerima wahyu untuk menulis sepuluh kitab tafsir yang disebut Sepuluh Sayap (Siep Ik). 

================= 
Episode 52. Yang Ho Lari 

Yang Ho yang kini sangat berkuasa di dalam Keluarga Kwi itu, kian lama kian sewenang-wenang; ia berkomplot dan mengadakan persekutuan dengan Kongsan Hut Jiau dan adipati-adipati lain yang tidak menyukai kepala keluarga Kwi. 

Pada tahun 502 S.M., Yang Ho melakukan pemberontakan lagi untuk merebut seluruh kekuasaan di Negeri Lo. Tetapi kali ini, kepala Keluarga Kwi, Bing, dan Siok bersatu menghadapi dan menumpas pemberontakan itu. 

Melalui pertempuran-pertempuran yang sengit, akhirnya Yang Ho dan sekutu-sekutunya dapat dilumpuhkan dan dikalahkan. 

Yang Ho berhasil melarikan diri dan mohon suaka ke Negeri Cee, sedang Kongsan Hut Jiau mengasingkan diri ke Kota Pi dan tetap bertahan di sana. 

Yang Ho membujuk Raja muda Cee menyerbu Negeri Lo, tetapi usaha ini gagal, bahkan Yang Ho diusir dari sana. Yang Ho lari menuju ke Negeri Song, dan kemudian ke Negeri Cien. Di sana ia diterima sebagai pejabat di dalam keluarga Thio, karena Kepala Keluarga yakni Thio Kancu tertarik oleh ambisi dan kepandaian bicara Yang Ho. 

Mendengar itu, Nabi bersabda kepada Cu Lo, “Akan mengalami kekacauan keluarga Thio oleh kehadirannya.” Sesungguhnya orang yang pandai membuat petaka itu kemanapun akan menimbulkan malapetaka. 

================= 
Episode 53. Menjadi Gubernur Daerah Tiongto 

Setelah kesewenang-wenangan Yang Ho dapat dipatahkan, maka nampak adanya kesadaran para bangsawan Negeri Lo untuk membenahi negerinya. 

Memenuhi kata-kata yang diucap terhadap Yang Ho, maka tatkala Nabi diminta Raja muda Ting dari Negeri Lo untuk memangku jabatan sebagai gubernur daerah Tiongto, Nabi telah menyanggupkan diri (500 S.M.). 

Setelah diterimanya jabatan itu, segera Nabi menyiapkan segala rencana dan pekerjaan untuk membereskan segala sesuatunya. 

Dikeluarkan peraturan mengenai jaminan perawatan bagi orang tua dan pemakaman yang baik bagi yang meninggal dunia. Nabi mendahulukan masalah ini karena pada jaman itu begitu banyak orang-orang mengabaikan ajaran Agama. 

Berbagai peraturan yang mendukung pelaksanaan program pemerintah ditegakkan sehingga dapat dibangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Orang tua beroleh jaminan hari tua, para muda beroleh pekerjaan, anak-anak dan remaja mendapatkan pendidikan. 

Dalam waktu yang relatif singkat dapat dibangunkan kesadaran moral yang tinggi; para karyawan melakukan pekerjaannya dengan baik, dalam perdagangan tidak ada penipuan, bahkan barang-barang yang jatuh di jalan tiada yang mengambilnya. Demikianlah daerah Tiongto menjadi daerah teladan. 

To Be Continue...

Please write a comment after you read this article. Thx..!!

0 comments:

Post a Comment